Friday, 17 February 2017

TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI HUTAN PELAWAN

(tulisan Ramadan 1437 hijriah yang entah kenapa males buat di posting, tapi akhirnya dipost juga)
Ngabuburit di Hutan Pelawan
Sebenernya nggak niat sama sekali untuk berkunjung ke hutan pelawan, tapi tugas dari kantor mengharuskan kami bertiga untuk datang ke taman keanekaragaman hayati yang ada di desa namang kabupaten Bangka tengah. Bekerja sambil jalan-jalan kali ini memang sedikit berbeda, maklum saja ini dilakukan di bulan ramadhan, jadi wajib ekstra kuat menjaga kemurnian niat di bulan penuh pahala ini. Makanya saya putuskan jalan-jalannya diniatin sambil tadabur alam, melihat kekuasaan sang maha pencipta, insya Allah berkah, amiinn.


Jarak Desa Namang memang tidak begitu jauh dari pusat kota Pangkalpinang, meski sudah berbeda wilayah administrasi antara ibukota, Pangkalpinang dan kabupaten Bangka Tengah, namun tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat sampai ke Desa tempat dimana Hutan Pelawan ini berada, cukup menghabiskan 25 menit saja dari Bandara Depati Amir untuk dapat langsung sampai kedesa ini. 
Ini adalah kesekian kalinya saya berkunjung ke hutan pelawan, tapi setelah satu tahun tidak datang menuju hutan kebanggaan warga Namang ini ternyata banyak juga perubahan yang saya rasakan, hal yang paling mencolok adalah jalan aspal yang mulus menuju hutan ini,  kini jarak tempuh dari sentra penanaman padi Namang menuju hutan pelawan bisa ditempuh kurang dari 10 menit, dulu waktu masih tanah merah  jarak tempuhnya bisa lebih dari itu.


Akses jalan yang baik ini ternyata membawa banyak perubahan pada lahan-lahan kosong disekitar hutan pelawan, sekarang sudah banyak orang yang menanam lada, pohon kaktus yang berbuah naga, dan jenis tanaman perkebunan lainnya. Yah intinya sudah banyak berubah setelah kurang lebih setahun tidak jalan-jalan lagi ke hutan pelawan.

Pak Zaiwan sosok Pembungkam Mulut Pencibir
Sampai dihutan pelawan pelestari hutan pelawan pak zaiwan sudah siap menjumpai kami tepat digerbang taman hutan pelawan. Sambil menenteng tiga botol madu manis pelawan Pak Zaiwan menyapa kami bertiga, senang rasanya bisa bertemu lagi beliau, tokoh yang gigih menjaga kawasan hutan lindung pelawan dari ancaman alih fungsi dan penambangan timah.
Sosok Pak Zaiwan memang tidak terpisahkan dari lahirnya taman keanekaragaman hayati hutan pelawan ini, perjuangannnya menjaga hutan ini mengisnpirasi banyak kalangan. Tidak terkecuali saya.
Impian pak zaiwan cukup simple, bagaimana caranya agar anak cucunya kelak dapat hidup mengenal hutan pelawan sebagai kekayaan alam yang turun temurun dilestarikan dan bagaimana masyarakat tidak kelimpungan mencari lahan jika berniat untuk kembali  menjalani profesi para tetua dulu sebagai petani dan pekebun. 
Pak Zaiwan, Sosok Dibalik Eksistensi Taman Keanekaragaman Hayati Hutan Pelawan
Dengan niat inilah sejak tahun 2008 Pak Zaiwan berjuang melindungi hutan pelawan, sempat menjabat sebagai kepala desa pada tahun yang sama pak zaiwan pun mengeluarkan peraturan desa untuk melindungi hutan ini. Kegigihan pak zaiwan sempat mendapat cibiran dari penambang timah dan beberapa kalangan lainnya. Tidak sedikit yang mencomooh pak zaiwan sebagai orang stress dan gila karena lebih memilih melindungi kawasan hutan ini dibanding mengalihfungsikannya sebagai kawasan tambang. Yang jika diuangkan harganya mungkin bisa ratusan juta rupiah perhektarnya. Maklum saja wilayah hutan seluas 300 hektar ini memiliki potensi timah dengan kualitas tinggi. Seiring berjalannya waktu hutan ini pun berkembang menjadi hutan wisata, dikunjungi oleh hampir 46 negara di dunia sebagai tempat penelitian dan destinasi wisata. Kegigihan pak Zaiwan pun berbuah manis dengan datangnya berbagai apresiasi dan penghargaan tingkat nasional dari kementrian kehutanan di masa pemerintahan SBY. Kisah luar biasa, “saat kita berjuang menjaga alam kini alam yang berbalik menjaga kita”, chakepsss..!!.

Terapi oksigen
Pagi hari sepertinya waktu yang tepat menikmati hutan ini, kicuan burung, aneka bunyi jangkrik, barisan semut yang berjalan rapi disisi trek jalan hutan, belum lagi tupai yang mondar-mandir membawa kesan alami-nya dapet banget (tapikan ini emang hutan, hehe). 
Yang paling nggak bisa dilupain adalah kesejukan udara yang dihasilkan dari rindangnya pepohanan disini.  Kelak hutan ini pasti akan menjadi paru-paru dari tanah Bangka. Pas banget buat yang pengen terapi oksigen.


Ngambil sarang Lebah Hutan pelawan

Madu, minuman purba yang telah ada sejak nabi adam hingga sekarang ini memang menjadi salah satu kekayaan alam yang dihasilkan dari hutan Pelawan, tidak hanya madu manis, madu disini juga ada yang pahit, nectar bunga pelawan yang dihisap oleh lebah-lebah hutan-lah yang membuat madu-nya memiliki nuansa pahit. Khasiat dari madu pahit ini bahkan sangat baik bagi kesehatan.
 Sayang banget bulan juni bukan waktu panen madu dihutan ini. Tapi kita masih diuntungkan dengan bersedianya bang Udin mengambil sarang lebah yang ada dihutan. Sarang lebah ini sengaja diambil agar lebah dapat kembali membangun sarang dan mengumpulkan madunya disarang yang baru.
 


Kulat Pelawan
Orang Bangka bilangnya kulat , kalau kita kenalnya jamur, setau saya jamur pelawan mungkin jamur termahal yang pernah ada di bangka belitung, atau bahkan se Indonesia. Sekilo jamur ini mencapai satu hingga dua juta Rupiah. Mahalnya jamur ini karena rasa dan kasiat atau manfaat  yang terkandung pada jamur pelawan. Belum lagi keberadaannya yang terbilang langka. Dalam satu tahun mungkin kita hanya akan menemukan jamur pelawan ini satu kali saja, tepatnya pada masa transisi antara dari musim hujan dan musim kemarau.
Warna jamurnya kemerahan dan tumbuh tepat dibawah pohon pelawan, serat akar dari pohon inilah yang menjadi tempat subur bagi jamur-jamur pelawan ini.
Sayang saat itu kita tidak menemukan keberadaan jamur pelawan, mungkin next time, kalau anda penasaran cukup datang saja ke hutan pelawan.

Jembatan Orange

Yah ini kayaknya sudah menjadi ikon taman keanekaragaman hayati, jembatan berwarna orange ini semakin panjang membelah hutan pelawan, pengunjung biasa menggunakannya sebagai tempat berfoto. Ada juga pondok-pondok kecil yang biasa digunakan para pengunjung, untuk bersantai dan berteduh. Pondokan paling ujung belum bisa lagi digunakan karena tangga dan treknya mengalami kerusakan.
Diujung jembatan orange ada trek kayu yang menyusuri sungai kecil, melewati trek ini harus ekstra hati-hati, kalau tidak jeli kita bisa saja terpeleset dan nyemplung disungai.
Rute kayu yang membelah sungai ini akan menghantarkan kita kejalan utama dan kembali ke Gerbang Taman keanekaragaman hayati hutan pelawan. 

No comments:

Post a Comment