Skip to main content

Mungkin Ini alasan kenapa salah satu bukit di Bangka ini pengen banget dikenal jadi bukit SOSMED

Akhirnya datang lagi ke Dusun Buhir Desa Berbura Kecamatan Riau Silip. Terakhir berkunjung ke dusun ini kurang lebih dua tahun yang lalu, waktu itu kita naik bukit maras dan bermalam disana. Kunjungan kali ini saya ditemani Reno dan Arief, dan kebetulan bertepatan dengan hari bumi 22 april 2017.
 Saat itu Ada event peringatan hari bumi yang digelar oleh komunitas pemuda kreatif dan dihadiri oleh berbagai komunitas yang berdatangan dari dalam dan luar propinsi. Tiba disini saya berhenti dikediaman pak Damino, kuncen Bukit Maras yang dikunjungan pertama sempat saya wawancarai.
Berbagai Komunitas ramaikan Peringatan Hari Bumi
Tepat didepan rumah pak damino terdapat lapangan yang telah didiami deretan tenda peserta dan saya bergegas bertemu Bang Edo, ketua panitia pelaksana event peringatan hari bumi, untuk kordinasi terkait syuting program Semangat Pagi Indonesia. Kami langsung diajak menaiki puncak bukit Mupos bukit yang sempat ingin dipopulerkan kembali oleh netizen dengan nama yang berbeda  yaitu Bukit Sosmed, walaupun penduduk sekitar lebih memilih nama yang telah lama ada yaitu Mupos. Sempet  penasaran juga kenapa bukit ini pengen banget berubah namanya jadi bukit Sosmed. Dan saya yakin pasti ada alasan dari kesan pro-kontra yang saya rasakan waktu datang kesini, khususnya pro-kontra terkait penamaannya. Biar tau saya putusakan untuk manjat bukit.

1. Puncak bukitnya Pas Buat selfie
Ini mungkin alasan yang pertama. Hanya 20 menit saja kita sudah bisa sampai kepuncak bukit ini, itu pun kalau kita berjalan kaki dari jalan utama dusun buhir. Kita akan melewati perkebunan karet dan sawit sebelum sampai ke kaki bukit. Tapi waktu itu  saya, Arief Dan Reno diantar pake motor ke kaki bukit. Jadi pas naik nggak lama-lama amat, paling sekitar tujuh menitan kita sudah sampai dipuncak. Arief sedikit tersendat karena mengalami cedera kaki. Luka kaki bekas jatuh dari motor kembali kambuh saat  mencoba menaklukan terjalnya tanjakan bukit Mupos. Nggak ada tanjakan curam, paling beberapa meter saja sebelum mendekati puncak  bukit, ada gundukan batu granit yang harus ditaklukkan. Sampai dipuncak saya sudah disambut dengan kibaran bendera merah putih dan satu Batang pohon yang kami gunakan untuk berteduh kalau matahari mulai merayap naik. 
Kalau bisa lewatin tanjakan ini kamu udah nggak lama lagi sampai puncak 
Lelah saat mendaki seketika terbayar saat melihat indahnya pemandangan bukit maras Dan Alam Desa berbura, dusun Buhir dari puncak Mupos. Kedengarannya ini ekspresi klasik kalau kita traveling daki-daki-an, tapi fakta kalau cape kita yang nggak seberapa itu terbayar, benar adanya. Kamu yang narsis pasti bakal langsung Selfie kalau udah  nyampe puncak bukit Mupos. Soalnya gue  juga.
Selfie is mustie

 Langsung Selfie setelah sampai puncak


2. Banyak Spot foto yang instagramable, Facebook able, path-able, bloggalbe dan Able-Able yang lain.
puncak Mupos
Puncak bukit Mupos memang tidak seluas yang dibayangkan, belum lagi landasannya banyak batu dan tidak rata, tapi banyak spot yang bisa kamu jadikan tempat buat foto disini. kalau kamu fotografer sejati pasti tahu spot mana aja yang bisa dijadiin tempat narsis. Foto dengan latar belakang bukit maras cukup jadi favorit. Guratan bukitnya terlihat membentuk sesuatu, imajinasikan saja dengan hati suci dan fikiran jernih. #jiahahahaπŸ˜€πŸ˜πŸ˜€ yang kotor bilas aja dulu,  pasti kamu dapetin sesuatu dari guratan bukit ini. kalau saya melihat guratan bukit maras ini membentuk sesosok manusia yang sedang terbaring. Tapi belum tahu manusia ini laki-laki atau perempuan, perlu imajinasi yang matang dan komprehensif untuk mengidentifikasikannya.  Foto dengan latar belakang Bukit maras saya nobatkan begitu Instagramable.
Bukit Maras pas banget buat jadiin BG 
Spot selanjutnya adalah keberadaan satu pohon di puncak bukit Mupos, pohonnya tidak begitu rindang, kalau foto disini ambil mode siluet saat sunrise Atau matahari belum begitu tinggi diatas kepala, hasilnya path-able bangets, ini IMHO ya pure pandangan awam saya sebagai pencinta foto bukan fotografer profesional. Tapi spot ini memang Exploreratif banget buat foto-foto, mudah-mudahan aja pohon kecil dan tidak begitu rindang ini tidak dirusak dan ditebang oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.
Spot Siluet 
Sedikit ke arah barat ada batu yang menjorok, pemandangan alam juga terlihat indah dari batu ini, Terlebih view landscapenya. Kalau pengen foto-foto eksisnya mengundang decak kagum di media sosial mungkin Ini spot cuco bingits gaesss!  Di Angle tertentu, jika kita berada disini kita bisa menghasilkan gambar seolah-olah model tengah berada di jurang yang curam, ingat seolah-olah πŸ˜€πŸ˜πŸ˜€πŸ˜Š. Jangan coba-coba bergelantungan dibatu ini, memang tidak tinggi tapi cukup beresiko dan yang paling penting batu ini tidak cukup kokoh, saya pernah mencoba untuk mendapatkan pose foto menggelantung, belum bergelantung bagian batu yang saya pegang malah berjatuhan. Cukup berdiri dan duduk diatas batu ini. Kita sudah cukup chuchox terlihat dimedsos.
Ini Spot keren yang Medsosable bingits
Bergeser kebagian bawah sebenarnya kita bisa dapetin foto kece disini. Tepatnya di bebatuan, rute awal kita manjat. Foto disIni hasilnya Medsosable bangets jadi jangan terburu-buru buat naek kepuncak kalau datang ke bukit Mupos. Yang paling penting adalah banyak banget spot foto yang hasilnya nggak cuman layak kamu cetak dan dipajang didinding rumah, tapi juga didinding sosmed.
Spot Enjoy lainnya tepat sebelum puncak pas Mupos




3. Ada JaringanπŸ“Ά4GπŸ“² dipuncak Mupos.
Ini bisa jadi alasan selanjutnya. Biar nggak disangka endores  saya nggak bakal bilang apa provider Jaringan yang saya pake, biar ajalah jadi misteri. Hanya saya, Arief, Reno, dan pengunjung bukit Mupos aja yang tahu. Awalnya nggak percaya kalau ada jaringan 4G di puncak bukit ini, tapi Reno mendadak kegirangan waktu cek sinyal  di Hape. "Ada 4G-nya gaessss disinihhh" ,  saya hanya bisa kaget, Arif langsung ngecek Hape, dan ternyata benar. Sinyal kita penuh banget, kuota internet berjalan mulus. Nggak sampai 1000 kilobyte sih tapi cukup untuk mengecek timeline Instagram, path Dan Facebook, siapa tahu kan Like foto narsis kita bertambah. Setau saya Arief adalah orang pertama yang update foto di Instagram, saya dan Reno masih menghemat baterai HP karena tinggal beberapa persen saja. 
Solusinya pastikan bawa powerbank atau hemat baterai  setelah dicas semalaman. Karena banyak hal yang bisa kita lakukan di puncak Mupos, istirahat setelah kelelahan dan bersantai ngecek timeline adalah dua hal utama yang bakal banget dilakukan di puncak Mupos selain foto-foto. 

4. Spam dari pengunjung yang tidak bertanggungjawab (sebuah kritik)
Biar lebih Sosmed banget saya pake istilah spam untuk sampah yang berseliweran di kaki dan puncak Mupos. Seperti timeline kita pasti ada saja spam yang seliweran kalau kita scroll handphone. Dan sumpah ini cocokologi saya aja, tentu ini bukan menjadi alasan kenapa bukit ini ingin disebut bukit Sosmed. Tapi Lebih kearah kritik saya saja tentang kondisi bukit yang ditinggali sampah oleh pengunjung yang tidak bertanggungjawab. Bukit Mupos  memang kerap menjadi destinasi berkemah para pengunjung. Atau tempat pengunjung biasa sekedar bersantai. Sebagian ada yang peduli dengan kebersihan lingkungan, sebagian lainnya ada yang beranggapan jika setiap sudut dari bumi ini adalah tong sampah. Makanya ada aja orang yang buang sampah seenaknya.
Hari Bumi
Alhamdulillah ada kegiatan peringatan hari bumi, banyak komunitas yang terlibat pada kegiatan ini, ada seasoldier, sepalla, black Hunter, Dan komunitas pecinta alam lainnya. Peringatan yang diikuti seluruh komunitas di Bangka Belitung ini diisi dengan banyak kegiatan, diantaranya adalah lintas alam sambil bersih sampah. Ada penanaman pohon juga di kaki bukit Mupos, bukit yang termasuk kedalam kawasan hutan lindung bukit maras ini memang sempat mengalami kebakaran hutan saat musim kering. Kegiatan nanam pohon adalah upaya reboisasi dan restorasi fungsi hutan yang sempat hilang akibat kebakaran. Mudah-mudahan saja kebakarannya bukan akibat ulah manusia yang sengaja membakar karena ingin membuka lahan amiinnn... Adem kan kalau isi timeline Medsos kita dipenuhi dengan ajakan kebaikan kayak bersih-bersih sampah sama nanam pohon. Yang paling penting  peduli lingkungan tidak hanya dilakukan seremonial saja, kita harus senantiasa membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.


Apapun namanya yang paling penting bukit ini perlu dijaga, melestarikannya tidak hanya mempertahankan eksistensi simbol nama sebagai panggilan semata. Perlu langkah kongkrit untuk kembali menjunjung fitrahnya  sebagai alam dari bumi ini. Kita belum terlambat kok  menjadi manusia yang ramah untuk bumi. Karena mengutip kata-kata kawan di akun Instagramnya, sejatinya bumi bukan milik kita, tapi kita-lah yang dimiliki Bumi. 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PULAU CELAGEN

THE KOLONG

Sebenernya ini bukan tempat wisata tapi entah kenapa media sosial berhasil menyulap lahan pasca tambang ini menjadi menarik dan mengundang penasaran banyak orang.
Orang Bangka manggilnya kolong, atau gubangan besar bekas aktifitas penambangan, belum tahu jenis tambang legal atau sebaliknya, lagian legal atau tidak legal disini sudah jadi hal yang biasa didengar..
Setau saya kawasan pasca tambang ini tergolong lahan kritis, atau lahan yang tidak produktif untuk ditanami jenis tanaman perkebunan, pertanian dan holtikultura. Akhir-akhir ini tidak jarang banyak orang pintar yang mencoba mngubah lahan pasca tambang  menjadi lahan subur dan produktif. Memang bukan keniscayaan, toh ada lahan pasca tambang yang sekarang menjadi kawasan agrowisata dipangkalpinang, terintegrasi dan menjadi subur. intinya-mah bisa kalau ada kemauan.
Letaknya di Desa Air Bara Kecamatan Air Gegas Kabupaten Bangka Selatan, banyak orang mengenalnya dengan sebutan air bara atau aik barre ada juga yang bilang air biru,…

EKSOTIKA PONGOK

Ini untuk kedua kalinya saya berkunjung menuju kecamatan kepulauan Pongok kabupaten Bangka selatan. Setelah pada Februari 2016 lalu saya juga sempat berkunjung ke kecamatan yang sama untuk melihat proses pembuatan ikan kering disentra ikan asin Desa Celagen.

Selain Desa Celagen kecamatan kepulauan Pongok memang memiliki satu Desa lainnya yaitu Desa Pongok, dari hampir 4000 jiwa warga Pongok 90 persennya berprofesi sebagai nelayan. Hasil laut memang menjadi kekayaan andalan dari Desa ini, tidak jauh berbeda dengan Desa Celagen. Jika kedatangan pertama saya ke kecamatan ini untuk mencari tahu potensi hasil lautnya, kali ini saya berniat untuk melihat potensi wisata bahari dan keindahan bawah laut dari Desa Pongok. Rasa penasaran akan keindahan kecamatan ini memang menjadi daya tarik yang saya simpan sejak kunjungan pertama ke Pulau ini, dan syukur Alhamdulillah bisa kesampaian. 

Di temani oleh kawan-kawan dari dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Bangka selatan, perjalanan mengeksplorasi…